Yogya Jakarta Yogya Jakarta Yogya Temanggung Yogya Malang Yogya Tiga pekan belakangan Yogya seakan tempat singgah saja

Yogya-Jakarta-Yogya-Jakarta-Yogya-Temanggung-Yogya-Malang-Yogya. Tiga pekan belakangan, Yogya seakan tempat singgah saja. Ibu dan Bapak pemilik kontrakan tadi berujar sembari keheranan ketika saya pamit, "Pergi lagi, Mas! Nggak capek apa? Kesehatannya dijaga loh."
Tiga pekan yang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan. Sekarang saya sudah di dalam gerbong kereta api, bersiap berangkat menuju Malang. Menjemput Lala. Lebih tiga minggu kami tidak berjumpa. Rindu tentu saja.
Usai kembali lagi ke Yogya nanti, saya kira saya harus berlama-lama di Yogya. Paling-paling dua tiga kali ke Temanggung sebentar saja, sebelum mudik lebaran ke Jakarta.

Bagi Aktivis Dakwah Setan Lebih Suka Merusak Akhlaknya Jarang Aqidahnya

# Bagi Aktivis Dakwah, Setan Lebih Suka Merusak Akhlaknya, Jarang Aqidahnya
Semoga kita para penuntut ilmu tidak lupa memperhatikan masalah adab dan akhlak, setta menjaga lisam dari kata-kata yang tidak baik, mengumpat, mencaci dan menggibah apalagi di depan umum seperti mimbar dan media sosial
Karema sudah mulai muncul (semoga sedikit) mereka yang mengaku penuntut ilmu bahkan ustadz, tetapi akhlak dan lisannya sangat kasar dan tidak pantas dinisbatkan kepada ajaran Islam.
Padahal adab dan akhlak adalah cerminan iman dan itulah agamanya. Jika seseorang mengalahkan engkau dalam akhlak, maka ia telah mengalahkan dalam agama. Bukan hanya ilmu yang menjadi patokan saja.
Bagi aktifis dakwah atau yang sudah mengenal dakwah ahlus sunnah wal jamaah, notabenenya insyaAllah sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.
Akhlak yang mulia juga termasuk dalam masalah aqidah
Umumnya Aktivis dakwah ahlus sunnah wal jamaah sangat perhatian terhadap akhlak karena ini memang sangat penting sekali, akan tetapi terkadang lalai masalah akhlak padahal akhlak mulia juga termasuk dalam masalah Aqidah
[Aqidah al-Washithiyyah]

Kita butuh teladan akhlak dan takwa
Hal inilah yang kita harapkan, banyak teladan langsung seperti ini. Baru melihat saja teladan tersebut, sudah sejuk dan kembali segar keimanan, belum lagi setelah mendengar embun nasihat darinya
selengkapnyaا:
http://muslimafiyah.com/bagi-aktivis-dakwah-setan-lebih-suk…
Penyusun: Raehanul Bahraen

Pernyataan resmi Gerindra mengajukan Prabowo sebagai calon presiden bukanlah hal istimewa karena sebelumnya baliho pencalonan oleh Gerindra sudah beredar sejak beberapa tahun

Pernyataan resmi Gerindra mengajukan Prabowo sebagai calon presiden bukanlah hal istimewa karena sebelumnya baliho pencalonan oleh Gerindra sudah beredar sejak beberapa tahun. Pencalonan oleh Gerindra ini tidak bisa diartikan bahwa Prabowo sudah pasti akan didaftarkan sebagai calon presiden di KPU untuk 2019 nantinya. Jalan ke arah itu bagi Prabowo masih panjang dan berliku.
Hingga saat dilakukan pengumuman tersebut dua masalah utama Prabowo untuk bisa mencalonkan diri secara resmi belum tuntas, yaitu kecukupan dukungan koalisi dan ketersediaan pendanaan. Dalam kondisi seperti ini maka pencalonan ini kurang persis sama dengan aksi Cak Imin memasang baliho kesediaan menjadi calon wakil presiden (bagi siapapun yang berminat menjadi presiden).

Teori Ibn Arabi lain yg menarik adalah Huwa la Huwa Dia bukan Dia

Teori Ibn 'Arabi lain yg menarik adalah "Huwa la Huwa (Dia bukan Dia)." Alam ini adalah Tuhan, tapi bukan Tuhan. Persis spt foto kita atau kita memandang ke cermin, kita akan berkata "itu saya tapi bukan saya. itu adalah pantulan saya." Karena alam ini adalah pantulan (lahir dari) Tuhan yg membawa serta semua kualitas Tuhan, maka memandang apapun di alam ini adalah memandang Tuhan, tapi ia bukan Tuhan. Antara pantulan dan Yang Memantul sulit dipisahkan tapi dapat dibedakan. Pantulan bersifat fana (nisbi, relatif dan tergantung) sedangkan Yang Memantul abadi (Mutlak). Pantulan, keberadaannya diadakan atau dipinjamkan oleh Yg Memantul, sedang Yg Memantul Ada-Nya dg Sendiri-Nya, tanpa Awal dan Akhir. Dg teori ini, Ibn 'Arabi ingin menegaskan bhw Tuhan dekat disini, hadir bersama makhluk. Sedangkan teori penciptaan (creatio ex nihilio) seakan2 memberi pengertian bhw Sang Pencipta memiliki jarak (jauh) dengan ciptaan-Nya. Yang satu khalik atau Tuan (rabb) sedangkan yg lain makhluk atau hamba ('abdun). Ada jarak antara Tuan dan hamba. Org sering berkata "terserah yg diatas." Berarti Tuhan jauh. Sang hamba duduk bersimpuh mengangkat tangan memanggil "Ya Rabb." Sementara sufi memanggil Yang Memantul itu dg sebutan "Wahai Kekasihku ( Ya Habibi). Mana lebih dekat hubungan antara Tuan dg hamba atau antara kekasih dan yg dikasihinya?

Hingga malam ini update hasil rekapitulasi quick count sejumlah lembaga survei telah mengkonfirmasi kemenangan pasangan Anies Sandi

Hingga malam ini update hasil rekapitulasi quick count sejumlah lembaga survei telah mengkonfirmasi kemenangan pasangan Anies-Sandi. Dari konfirmasi kemenangan ini, hal yang menarik bagi saya adalah besarnya selisih suara dengan perolehan petahana, yaitu di kisaran 8%. Besaran selisih ini di atas prediksi saya sendiri yang memperkirakan bahwa pemenang akan mencatat keunggulan tipis, sekitar 3%.
November tahun lalu saya menulis bahwa basis suara siapapun yang melawan petahana adalah 47% berdasarkan baseline hasil pilgub 2012 dan pilpres 2014 di Jakarta. Siapapun yang menantang petahana akan mendapatkan keuntungan dari sentimen primordial yang diwariskan dari kedua ajang politik sebelumnya. Saya juga memprediksi bahwa perebutan suara swing voters akan terjadi, terutama di kelompok pemilih yang merasa dirugikan oleh kebijakan petahana. Hasil sementara rekapitulasi quick count yang mengindikasikan Anies dan Sandi memperoleh suara 58% menunjukkan bahwa mereka setidaknya memperoleh tambahan 10% dari pemilih yang beralih.
Hasil berbagai survei sebelum hari ini menempatkan sentimen primordial menjadi faktor yang signifikan untuk keunggulan Anies-Sandi, tapi yang memperkuat sentimen ini adalah ketidakpuasan atas kebijakan penggusuran dan reklamasi yang dilakukan oleh Ahok. Campur aduk isu primordial dan penggusuran serta reklamasi dalam setahun terakhir membuat kans petahana untuk meraup suara di kantong-kantong pemilih di kelompok ini menjadi sangat minim dan terbukti demikian di dalam dua putaran pilkada Jakarta ini.
Kekalahan Ahok di pilkada ini menjadi indikator proyeksi hasil Pilpres 2019. Hal ini disebabkan karena kesamaan kubu kandidat yang akan bersaing. Jakarta menjadi arena mini untuk pilpres, terutama karena emosi dan sentimen dalam skala nasional terlibat di ajang politik ini. Saya yakin jika duel Jokowi dan Prabowo terulang lagi, maka selain akan ada pengulangan perang isu seperti di pilpres 2014, kubu Prabowo juga akan menggunakan opini atas kinerja Jokowi sebagai bahan kampanye.
Bercermin dari kasus Ahok yang terjungkal karena opini miring atas kebijakannya, Jokowi yang sangat menekankan strategi developmentalisme berisiko menghadapi hadangan yang sama. Opini dan reaksi dari kelompok aktivis idealis atas proses dan dampak kebijakan pembangunan akan menjadi salah satu penentu utama akumulasi suara di 2019 seperti di Jakarta saat ini. Jika Ahok diganjal dengan film dokumenter Jakarta Unfair dan rilis laporan LBH, maka film-film dan rilis serupa akan marak menjelang 2019.

Posmetroinfo news com Rapat koordinasi lintas sektoral dalam rangka analisa dan evaluasi digelar di Rupatama mabes polri jalan trunojoyo Jakarta Selatan senin 25 6 2018

Posmetroinfo news.com ➖ Rapat koordinasi lintas sektoral dalam rangka analisa dan evaluasi digelar di Rupatama mabes polri, jalan trunojoyo Jakarta Selatan senin 25-6-2018
⏩ Rapat itu dihadiri panglima TNI dan Kapolri hingga para Menteri antara lain : menteri PUPR basuki hadimuljono, menteri dalam negeri Tjahjo Kumolo ,menteri perhubungan Budi karya, dan menteri Pertanian Amran sulaiman
⏩dari pantauan rapat analisa dan evaluasi pengamanan Lebaran 2018 dan jelang PILKADA itu dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator politik ,hukum dan keamanan WIRANTO
⏩ Karena rapat tertutup, para wartawan hanya diperkenankan mengambil gambar sebelum jalannya Rapat Lintas Sektoral

SBY effect Bisa kah Bpk SBYudhoyono menjelaskan ini ke pendukung kang Dedi Mulyadi

SBY effect....
Bisa kah Bpk SBYudhoyono menjelaskan ini ke pendukung kang Dedi Mulyadi ???
Baperan pepo bikin nyungsep jagoan nya di jabar
"Dedi Mulyadi Sebut Pilkada Jabar Akhiri Sukses Politik Citra"
Manuver SBY
Suara pengalihan dukungan tersebut menurut Dedi terjadi di Debat Publik II Pilgub Jabar di Depok Jawa Barat. Saat itu, pasangan Sudrajat-Syaikhu memperlihatkan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden.
Kondisi itu sebut dia, semakin diperparah dengan manuver Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono. Dalam konferensi pers di Kota Bogor, SBY menyebut bahwa Pj Gubernur Jawa Barat M Iriawan menggeledah rumah dinas wakil gubernur.
“Dalam posisi ini, kami paling dirugikan. Suara kami tergerus hingga 15 persen,” ucapnya.
https://t.co/Idi3eSJ8ZB

Survei Poltracking Pilgub Jabar Rindu 42 Duo DM 35 8

Survei Poltracking: Pilgub Jabar, Rindu 42% Duo DM 35,8%.
Berdasarkan survei, pasangan 'Rindu' memuncaki elektabilitas dengan angka 42%. Terpaut tipis dengan pesaingnya Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Duo DM) di angka 35,8%. Lalu pemilih yang belum menentukan 6%.
Poltracking melakukan survei lima hari menjelang pemilihan dari tanggal 18-22 Juni. Survei memiliki 800 responden yang diambil berdasarkan data pemilih tetap (DPT) KPU dengan metode stratified multistage random sampling. Survei margin of error kurang lebih sebesar 3,5% pada tingkat kepercayaan 95%.
https://m.merdeka.com/…/survei-poltracking-pilgub-jabar-rin…

Terima Kasih Bapak Presiden Joko Widodo melalui undangan Bapak Presiden akhirnya Raja Salman mempercayakan kepada pemerintahan yang Bapak pimpin untuk sudi berinvestasi di NKRI ini

* Terima Kasih – Bapak Presiden Joko Widodo – melalui undangan Bapak Presiden, akhirnya Raja Salman mempercayakan kepada pemerintahan yang Bapak pimpin, untuk sudi berinvestasi di NKRI ini.
--------------------
Kedubes Saudi: Raja Salman ke Indonesia Penuhi Undangan Jokowi
Jakarta - Kedutaan Besar Arab Saudi menyatakan maksud kedatangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia pada 1 Maret hingga 9 Maret 2017 mendatang. Raja Salman hendak memenuhi undangan Presiden Jokowi.
Hal ini disampaikan oleh Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi lewat keterangan tertulis yang diterima detikcom, Sabtu (28/1/2017). Sebelumnya Jokowi mengunjungi Raja Salman pada 2015.
"Kedutaan Besar Kerajaan Saudi Arabia di Indonesia bersama ini dengan hormat menyampaikan bahwa kunjungan Yang Mulia Dua Pelayan Kota Suci-Khodim Al Haromain Al Syarifain-Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud (semoga Allah melindunginya) ke Indonesia dilakukan untuk memenuhi undangan Yang Mulia Presiden RI Joko Widodo, usai kunjungannya ke Saudi Arabia pada tahun 2015M," kata Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi.
Keterangan pers ini tertanggal 27 Januari 2017 atau 29 Rabiul Akhir 1438. Kunjungan itu direncanakan membahas peningkatan hubungan kedua negara.
"Di mana kunjungan tersebut dalam rangka meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara serta dalam rangka membahas berbagai bidang kerjasama demi kepentingan kedua bangsa yang bersahabat," kata Kedutaan Besar Kerasaan Arab Saudi.
Sekalian, Kedutaan Saudi juga menepis kabar yang beredar di media sosial soal alasan kedatangan Raja Salman selain alasan di atas. Alasan yang beredar di media sosial adalah tidak benar.
"Dan berkaitan dengan apa yang tersebar di situs jejaring sosial selain pernyataan di atas adalah informasi yang tidak benar," kata Kedutaan Besar Arab Saudi. (dnu/bag)
Sumber:
https://m.detik.com/…/kedubes-saudi-raja-salman-ke-indonesi…

Cinta Dan Swastika Cinta seperti apa Katamu senja itu Aku tak menjawab Bungkam Kemudian kau menyeretku ke sebuah kursi Kita duduk Ya berdua saja Seakan akan kau membutuhkan sebuah jaminan atas pernyataan cinta itu

Cinta Dan Swastika
"Cinta seperti apa?" Katamu senja itu.
Aku tak menjawab. Bungkam. Kemudian kau menyeretku ke sebuah kursi. Kita duduk. Ya berdua saja. Seakan-akan kau membutuhkan sebuah jaminan atas pernyataan cinta itu. Aku manut. Diam. Kemudian menatap kedua bola matamu. Teduh. Bening. Cahaya berkilauan di sana.
"Apa perlu aku menjawabnya?" Ujarku menegaskan.
"Wajib. Itu kan pertanyaan?" Katamu.
"Tidak semua pertanyaan harus dijawab, Dik!"
"Jika wajib bearti kosekuensi dari yang tak boleh dihindari," ungkapmu.
"Itu pernyataanmu bukan dariku."
"Sudahlah. Aku butuh jawaban bukan argumen." Kau memalingkan wajah. Memunggungiku juga.
"Dik," sembari menjawil tanganmu agar kau melihat ke arahku. Dan mendengarkan kata-kataku.
"Jika cintaku padamu serupa mawar, tentulah binasa jika ia layu. Lunglai. Rontok. Rapuh."
"Kau jangan berfilosofi gitu, aku ndak mudeng." Kau manyun.
"Ya, sungguh, Dik. Cinta itu tak bisa diungkapkan oleh simbol apapun. Ia tumbuh sendiri. Mekar semaunya. Membelukar sejadinya. Ada duri pun tetap orang-orang memetik seperti mawar itu."
"Begitukah?"
"Hu umz."
"Kok, jawabnya cuma itu?"
"Aduh, Dik! Swastika pun simbol cinta. Namun di tangan Hitler semuanya menjadi menakutkan."
Kau menatapku penuh tanya.
Dik, aku tak mengapa dicecar karena cinta. Toh, sejatinya ia ada dalam diri kita. Ia tak perlu kata-kata. Meski ia perlu kata-kata ia sungguh bukan kata-kata.