Arkib 10/2019

Propaganda Bersama Yang Sedang Dijalankan Oleh Media media Besar Nasional Bersama Partai partai Pengusung Jokowi Dalam Seminggu Terakhir

Propaganda Bersama Yang Sedang Dijalankan Oleh Media-media Besar Nasional Bersama Partai-partai Pengusung Jokowi Dalam Seminggu Terakhir
**************************
1. Menggiring opini publik bahwa Gatot Nurmantyo adalah capres terkuat untuk melawan Jokowi dibandingkan Prabowo. Tujuannya adalah untuk meruntuhkan kepercayaan diri pendukung Prabowo.
2. Para elit pendukung Jokowi ramai-ramai berbicara di media bahwa Prabowo belum tentu maju sebagai capres, kendati Gerindra sudah menegaskan berkali-kali bahwa Prabowo sudah resmi akan maju sebagai capres. Namun wacana yang diblow up media yakni Prabowo masih ragu untuk maju.
3. Sebagian lembaga survey bersemangat menyatakan elektabilitas Jokowi sangat tinggi dan sebaliknya elektabilitas Prabowo sangat rendah. Hasil-hasil survey “pesanan” ini terus menerus diberitakan oleh media pro-penguasa. Tujuannya untuk memupuk pesimisme publik.
4. Dalam banyak dialog, media-media besar bersama partai pengusung Jokowi selalu mengarahkan opini agar terbentuknya poros alternatif untuk memilih capres ketiga selain Jokowi dan Prabowo. Tentu sekali lagi tujuannya untuk memecah suara umat.
**************************
Sebenarnya Jokowi dan pengusung sedang menggigil ketakutan menunggu kekalahan telak seperti Pilkada DKI.
Logikanya adalah fakta persentase pilpres 2014 kemenangan Jokowi hanya 3% diatas Prabowo (53% - 47%).
Dalam 5 tahun terakhir berapa banyak yang taubat dari mendukung Jokowi? Berapa banyak yang kecewa? Berapa banyak yang akan bersama gerakan 212 dan ulama? Berapa banyak yang akan totalitas memilih dan mengawal pemilu kali ini?
Fakta-fakta ini sedang ditutupi oleh media-media besar dan partai-partai penguasa dengan berbagai propaganda diatas.
Namun masyarakat Indonesia tidak akan tertipu untuk kedua kalinya Insyaa ALLAH.
#Bukan_Hanya_Tentang
#2019GantiPresiden
Tapi Tentang Berlepas Diri Dari
#Kemunafikan
#Ketololan
✊?✊?✊?

BERSAMA PASTI LEBIH ASYIK HADIRILAH Kampanye Rapat Umum DOA BERSAMA UNTUK JAWA BARAT Bersama mayjensudrajat syaikhu_ahmad_ Pasangan Calon Gubernur Wakil Gubernur Jawa Barat 2018 2023

BERSAMA PASTI LEBIH ASYIK??
HADIRILAH!!
Kampanye Rapat Umum
“DOA BERSAMA UNTUK JAWA BARAT"
Bersama :
@mayjensudrajat - @syaikhu_ahmad_
(Pasangan Calon Gubernur - Wakil Gubernur Jawa Barat 2018-2023)
- @prabowo SUBIANTO
(Ketua Umum Partai GERINDRA)
- @msi.sohibuliman
(Presiden Partai Keadilan Sejahtera)
- @zul.hasan
(Ketua Umum Partai Amanat Nasional)
- @yusrilihzamhd
(Ketua Umum Partai Bulan Bintang)
- @rhoma.irama
(Ketua Umum Partai Idaman)
Minggu, 29 April 2018
Pukul 08.30 - 11.30 Wib
Lapangan Multiguna Bekasi Timur, Kota Bekasi
Dresscode : Pakaian Putih
Hadirlah dan pastikan anda menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan Jawa Barat Termaju, Bertakwa, Aman dan Sejahtera.
PILIH ASYIK!✔
SUDRAJAT - SYAIKHU NO 3 ?
untuk Jawa Barat yang
Sejahtera Warganya, Bahagia Bersama
#jabarasyik
#Asyik3
#sejahterawarganya
#bahagiabersama

Pancasila dan NKRI adalah konsensus paling final kita sebagai negara bangsa

Pancasila dan NKRI adalah konsensus paling final kita sebagai negara-bangsa. Indonesia damai dalam kebhinekaan adalah harga yang tidak bisa ditawar. Demokrasi elektoral meski belum ideal menghasilkan pemimpin-pemimpin terbaik adalah cara paling aman dan masuk akal untuk kita mengelola berbagai-bagai perbedaan ide dan pandangan kenegaraan dan kebangsaan yang saling berkontestasi, bahkan bertentangan.
Kepada seluruh teman FB, selamat memilih jika ada yang sesuai dengan visi dan hati nurani.
Terkhusus untuk teman-teman sesama aparatur sipil negara, mari jaga netralitas dan turut menjaga suasana damai dalam Pilkada 2018 dan Pilpres-Pileg 2019 nanti. ?

MEREKA TELAH MEMILIKI BBRP NAMA DIANTARANYA PRABOWO SUBIANTO GATOT NURMANTYO DAN ANIES BASWEDAN

MEREKA TELAH MEMILIKI BBRP NAMA, DIANTARANYA PRABOWO SUBIANTO, GATOT NURMANTYO DAN ANIES BASWEDAN ...
"Umat Islam berharap muncul calon2 lain. Calon alternatif spt Pak Prabowo Subianto [Ketua Gerindra,] dan lain sbgnya," kata Yusuf Muhammad Martak, usai konferensi pers di Jakarta, Senin (12/3) kemarin.
"Kami ingin mengedukasi umat di tahun politik ini terutama terkait perhelatan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 agar umat memahami dan menentukan calon pemimpin yg layak dipilih sesuai rekam jejak yang bersih dan kompetensinya," tutur Yusuf.
KATANYA LAGI,
"KAMI INGIN MENGEDUKASI UMAT DI THN POLITIK ... MENENTUKAN CALON PEMIMPIN YG LAYAK DIPILIH SESUAI REKAM JEJAK, YG BERSIH ... ". ..... ("!!!???")

AJARKAN ANAKMU AGAMA SEJAK KECIL masa kecil adalah masa keemasan seseorang untuk menyerap ilmu dan akhlak

AJARKAN ANAKMU AGAMA SEJAK KECIL
masa kecil adalah masa keemasan seseorang untuk menyerap ilmu dan akhlak. Oleh sebab itulah Rasulullah sangat perhatian terhadap pendidikan anak-anak yang masih kecil. Sebagai contoh perhatian Rasul adalah pengajaran beliau kepada Ibnu Abbas -radhiyallah anhh- ketika bersabda:
((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))
“Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” H.R.At Tirmidzi no. 2516
Sebuah pengajaran yang luar biasa dari Rasul kepada Ibnu Abbas tentang tauhid, iman kepada takdir, dan merasa diawasi Allah serta menjaga syariatnya.
Dan para ulama pun tidak ketinggalan untuk mengajarkan kepada anak mereka ilmu sejak dini. Al-Khotib al-baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Abdullah bin Daud ia berkata: "seharusnya seorang lelaki memaksa anaknya untuk mendengarkan hadits" dan dia juga berkata:" bukanlah agama dengan sebatas perkataan (retorika) akan tetapi agama itu hanyalah dengan atsaar (hadits)"
[Syarofu Ashabil Hadits, hlm 65]
Bahkan yang menggelikan, Imam Ahmad bin Sholeh melarang anak-anak yang belum tumbuh jenggot untuk hadir di majlisnya. Abu daud berharap dan menginginkan agar anaknya mendengar hadits darinya, kemudian ia menempelkan di wajah anaknya jenggot dan hadir dimajlisnya! Maka Gurunya mengetahui yang demikian dan berkata: "apakah untuk orang semisalku diperbuat kepadanya semisal ini? (Di buat jenggot palsu agar diizinkan hadir di majlisnya). Berkata Abu Daud: " tidaklah aku diingkari kecuali aku mengumpulkan anakku bersama orang yang sudah besar, apabila anakku tidak bisa mengungguli mereka dalam ilmu, maka laranglah dia dari mendengar hadits (darimu) [siyar A'lam Annubala, (XIII/226-227. Dinukil dari Ma'alim fi thoriq tholabil ilm, hlm 137]
Dika wahyudi Lc.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1796061737355992&id=1793343040961195

NASIHAT UST ARIFIN ILHAM Buat presiden Jokowi Sejumlah ulama diundang Presiden Joko Widodo Jokowi di Istana Negara Senin 17 April 2017

NASIHAT UST.ARIFIN ILHAM
Buat presiden Jokowi
Sejumlah ulama diundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Senin, 17 April 2017.
Dalam kesempatan itu, Presiden meminta dan berkeinginan agar sejumlah tokoh alim ulama dan perwakilan dari organisasi masyarakat (ormas) Islam turut serta menjaga keamanan Pilkada DKI Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi didampingi oleh Menko Polhukam Wiranto, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, Prof Jimmly Ashshiddiqie (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), dan Teten Masduki (kepala Staf Presiden).
Sedangkan rombongan ulama berjumlah sekitar 25 orang, antara lain Ketua MUI/ Ketua NU KH Ma'ruf Amin, Ustaz Arifin Ilham, Ustaz Yusuf Mansur, perwakilan Pemuda Muhammadiyah, perwakilan Pemuda NU, dan lain-lain.
Dalam pertemuan tersebut, Ustaz Arifin Ilham mengatakan, ia menyampaikan beberapa hal penting.
"Subhanallah walhamdulilah... di antara yang Arifin langsung sampaikan ke Ayahanda Jokowi dalam pertemuan sore ini yang juga dihadiri para alim ulama yang diundang di istana ada beberapa hal. Dan Ayahanda Jokowi mendengarkan sungguh-sungguh dan serius permintaan para ulama," kata Pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra itu.
Beberapa hal yang disampaikan itu adalah:
1. Rasa ketidakadilan pemerintah dalam hukum dan pilkada, mayoritas dipaksa tunduk pada minoritas, penegakan hukum yang tidak serius terhadap penista agama, terdakwa tetap jadi gubernur, bagi sembako tim kotak yang dikawal aparat dan sebagainya.
2. Mohon segera dibebaskan Ustaz Khaththath, Babe Sadli, dan para mahasiswa yang ditahan. Dan arifin siap sebagai penjaminnya.
3. Pemerintah wajib menjunjung tinggi semangat pilkada damai, bersih, adil, dan netral.
4. Pejuang keadilan untuk penista agama dianggap anti-Pancasila dan antikebinekaan, sementara penista dianggap lebih Pancasilais. Ini sangat jauh dari fakta hukum, keadilan, dan hati nurani.
5. Mengingatkan dengan santun untuk ayahanda Jokowi bahwa bapak adalah Presiden NKRI, bapak negara, bapak rakyat, bapak semua partai, suku, bangsa, dan agama. Wajib bersikap tegas, jelas, adil, dan penuh kasih sayang untuk kemaslahatan negara tercinta ini.
"Alhamdulillah beliau menanggapi dengan serius. Semoga Allah berkahi NKRI kita tercinta, amin," kata Arifin

Baiknya Jangan LIKE Sebelum Dibaca Sesekali disaat sedang bercermin Bertanyalah Layakkah saya mematut diri bahwa saya cantik

Baiknya,.. Jangan LIKE Sebelum Dibaca !!
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Sesekali, disaat sedang bercermin..
Bertanyalah :
Layakkah saya mematut diri bahwa saya cantik? sebab nyatanya keindahan fisik ini hanya Allah saja yang beri. Layakkah saya berbangga diri, bahwa banyak mata pria yang memandang dan memuji? Sebab nyatanya, ini bisa saja menjadi lahan dosa untuk sebagian mata… Layakkah saya tersenyum bangga, jika nyatanya jilbab panjang nan lebar ini tak diiringi dengan keindahan akhlak dan kerendahan hati? Pantaskah saya mengaku muslimah, jika nyatanya saya masih berpacaran ria tanpa malu dengan gelar akhwat bersemat di dada?
Tak menjadi penting seberapa lebar kerudungmu, tak menjadi penting seberapa banyak hafalan Qur’an dan haditsmu, jika nyatanya kau tak bisa menjaga izzah dan iffahmu sebagai muslimah, meski di saat tak ada seorangpun yang tahu… tapi, pasti Allah tahu…
[ Rahmat Rijalun ]

AMBIL BAIKNYA BUANG BURUKNYA 2 Pada tulisan sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa statement atau kaidah di atas tidak sepenuhnya salah

[AMBIL BAIKNYA, BUANG BURUKNYA (2)]
Pada tulisan sebelumnya, sudah saya sampaikan bahwa statement atau kaidah di atas tidak sepenuhnya salah.
Sekarang mari kita perhatikan keadilan atau keinshafan al-Imām adz-Dzahabiy rahimahullāh. Beliau salah satu ulama yang memiliki jiwa besar. Pantas saja beliau dijuluki dzahab (emas).
Di dalam kitabnya, beliau bercerita tentang seorang ulama yang bernama Qatādah bin Di'āmah rahimahullāh. Qatādah adalah Hafizhul Ashr (penghafal di masanya) dan Qudwatul Mufassirin wal Muhadditsin (suri teladannya para ahli tafsir dan ahli hadis). Ulama tabi'in dengan banyak kelebihan ini dilahirkan pada tahun 60 H dan terlahir dalam keadaan kedua matanya buta.
al-Imām adz-Dzahabiy rahimahullāh menjelaskan:
“Qatādah adalah hujjah menurut kesepakatan para ulama jika beliau menjelaskan dan menegaskan periwayatannya. Karena sebagaimana diketahui beliau termasuk ulama mudallis (orang yang melakukan tadlis) dalam meriwayatkan hadis. Adalah beliau ada ketergelinciran dalam masalah takdir. Kita memohon kepada Allāh ampunan. Namun demikian tidak satu ulama pun yang meragukan kejujuran, keadilan, dan kekuatan hafalannya. Semoga Allah memberikan udzur atas kekeliruannya atau kebid'ahannya (dan orang-orang semisalnya yang bercampur bid'ah padanya) karena bermaksud mengagungkan Allāh dan mensucikan-Nya. Dan Allāh menghukumi dengan adil serta lembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dan Dia tidak akan ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya.
Kemudian seorang ulama besar yang banyak menepati kebenaran, bahkan diketahui pula upayanya dalam mencari kebenaran, keilmuannya luas, kecerdasannya menonjol, dikenal pula kesalihannya, kewara’annya, dan komitmennya terhadap sunnah, maka ulama dengan karakteristik demikian ini akan diampuni ketergelincirannya dan kita tidak boleh memvonis sesat terhadapnya, merendahkannya serta MELUPAKAN KEBAIKAN-KEBAIKANNYA. Ya, kita tetap TIDAK meneladani beliau di dalam bid'ah dan kekeliruannya. Dan kita berharap semoga beliau bertaubat dari kekeliruannya." [as-Siyar li adz-Dzahabiy, 5/271]

Dalam polemik soal legalitas dalil dan rujukan soal khilafah orang orang mengutip ayat Qur an hadits Nabi dan pendapat para ulama besar

Dalam polemik soal legalitas, dalil dan rujukan soal khilafah orang-orang mengutip ayat Qur'an, hadits Nabi dan pendapat para ulama besar.
Menurut saya, rujukan yg paling nyata adalah 14 abad sejarahnya yang telah membawa Islam pada kejayaannya, walaupun ada masa-masa kemundurannya. Itu biasa saja dalam politik. Adalah ironis, sudah 14 abad berjalan sebagai imperium Islam, kita masih memperdebatkan dalil ada tidaknya dalam Al-Qur'an.
Ini disebabkan dominasi berpikir fiqhiyah dalam konteks peradaban Islam walau dalam fiqh itu ada fiqh siyasah, fiqh yang khusus membicarakan politik. Jadi yang dipikirkannnya selalu dalil, dalil dan dalil.
Umat lain sudah menguasai dunia, kita masih ribut ngutak-ngatik hukum boleh tidaknya, ada tidaknya, sah tidaknya. Ini cara berpikir yang ketinggalan.[]

AN NIYAATU FIL FUULITIK Politik adalah soal kekuasaan dan kekuasaan di dunia ini adalah uang

AN-NIYAATU FIL FUULITIK
Politik adalah soal kekuasaan dan kekuasaan di dunia ini adalah uang. Maka, bila uang yang berbicara, politik dapat dikuasai. Itu politik pragmatisme. Ini yang disebut low-politics, politik rendahan. Politik uang untuk memenangkan kompetisi kekuasaan. Uang bisa merajalela dan menjadi penentu bila kekuasaan sebagai tujuan (politics for power). Tapi, tidak semua politik bersifat pragmatis, oportunis dan hanya soal perebutan kekuasaan. Ada yang lebih dari itu.
Agama membimbing manusia agar politik bukan soal praktis-pragmatis, soal uang atau hanya soal berkuasa dan kekuasaan, tapi sarana untuk menciptakan kepemimpinan yang benar atau alat untuk memperjuangkan hal-hal yang lebih tinggi: keadilan, supremasi hukum atau terimplementasinya ajaran kitab suci dalam ranah politik dan kekuasaan tentang kebenaran, kejujuran, amanat dll. Ini yang disebut high-politics, politik tingkat tinggi. Politik tingkat tinggi tidak mesti berkuasa, yang lebih penting berpengaruh.
Oleh mereka yang kesadaran dan tradisi berpikirnya praktis pragmatis, bahkan oportunis, high-politics ini akan susah difahami dan diterima karena referensi di kepalanya yang disebut politik itu ya yang praktis pragmatis dan rebutan kekuasaan semata itu.
Politik Islam harus mengarah ke high politics siapapun yang berkuasanya. Bila yang berkuasa lebih mempertahankan kekuasaan kelompoknya ketimbang pesan2 agama dan nilai-nilai ilahiyah maka itu bukan politik Islam walaupun para ulama berjejer disitu berkuasa, seperti wilayat el-faqih di Iran misalnya.
Sama juga, bila rakyat, partai, kelompok, kaum oposan atau apa saja, orientasi politiknya kekuasaan semata atau ingin giliran berkuasa, itu pun bukan politik Islam. Maka, niat berpolitik disini menentukan. Siapa yang tahu niat? Masing-masing diri, kelompok, partai dsb.
Niat akan menentukan nilai dan kualitas berpolitik. Oleh niat yang lurus, semua praktek politik busuk akan mudah kelihatan dan terbongkar.
Sekarang, tujuan NKRI, Pancasila, demokrasi dsb apa niatnya? Bila semua itu digunakan hanya untuk berkuasa sekompok orang, maka itulah politik kekuasaan yang rentan penyelewengan, pembusukan dan otoritarianisme atas nama Pancasila dan NKRIn
Atau, negara Islam, syariat Islam dan khilafah, apa niatnya? Bila tujuannya hanya untuk berkuasa kaum agamis, itu bukan politik Islam, itulah topeng agama untuk politik atau politisasi agama.
Politik Islam harus hanya berorientasi dan digunakan untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, kejujuran, kesejahteraan rakyat dst. Tujuannya utamanya "baldatun thayyibatun warabbun ghafur." Wallahu a'lam.[]