Arkib 06/2020

HOAK MINTA KELUARKAN MAHASISWA UI DAN BERUCAP KEPADA MAHASISWA UI DENGAN TIDAK CUKUP HANYA MEMINTA MAAF

HOAK MINTA KELUARKAN MAHASISWA UI DAN BERUCAP KEPADA MAHASISWA UI DENGAN TIDAK CUKUP HANYA MEMINTA MAAF ..!!
maka Umat islam dengan tegas TIDAK CUKUP DENGAN MINTA MAAF jika mahasiswa ui pembuat video di tolak hoak
APA CUKUP Hanya Minta Maaf? Saat Kasus Video UI Ahok Minta Mahasiswa UI Dikeluarkan, tak Cukup Maaf
[portalpiyungan.com] JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkannya setelah tersebar video pidato Ahok dihadapan warga Kepulauan Seribu yang melecehkan Al-Quran "Dibodohin pake surat Al Maidah 51".
Setelah protes Umat Islam dan para Ulama meluas setanah air dan secara resmi Ahok dilaporkan ke Bareskrim atas penistaan agama, Ahok lalu minta maaf dan minta urusan ini tidak dilanjutkan lagi.
"Saya minta maaf atas kegaduhan ini. Saya pikir komentar ini jangan dilanjutkan lagi. Ini tentu mengganggu keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara," kata Ahok, seperti dilansir KOMPAS, Senin (10/10/2016).
Link: http://megapolitan.kompas.com/…/ahok.minta.maaf.kepada.umat…
APAKAH SELESAI DENGAN PERMINTAAN MAAF???
Masih ingat saat Mahasiswa UI membuat video dan diunggah di Youtube yang menolak Ahok?
Apa reaksi Ahok saat itu? Ahok menyatakan tak cukup minta maaf tapi harus dikeluarkan dari UI.
Boby Febry Krisdiyanto, mahasiswa UI itu akhirnya minta maaf. Namun Ahok menyatakan permintaan maaf tersebut tidak serta merta menyelesaikan masalah. Menurut Ahok sikap rasis yang ditunjukkan dalam video tak selesai hanya dengan surat permintaan bermaterai.
"Saya tidak berhak campuri urusan UI. Itu kembali ke putusan UI. Karena itu haknya UI. Tapi kalau saya sebagai warga negara, saya keberatan. Orang sudah rasis begitu, menjual nama UI, lalu hanya minta
maaf, pakai materai, lalu selesai?" kata Ahok.
Ahok minta mahasiswa UI itu di-DO alias dikeluarkan dari UI.
"Kalau saya, saya pecat dari mahasiswa. Karena gak guna, mahasiswa disekolahin. Karena UI ini dibayar oleh APBN. Jadi kalau kamu lulusan dari PTN, kamu harus sadar, kamu lulus dibayar oleh uang rakyat,” kata Ahok di Balaikota Jakarta, Rabu (7/9/2016).
Link: http://poskotanews.com/…/ahok-keberatan-mahasiswa-ui-hanya…/
Tak hanya itu, Ahok minta mahasiswa itu pindah ke Timur Tengah.
"Harusnya dia dikeluarkan, bila perlu dia pindah ke Timur Tengah," kata Ahok saat itu. (KOMPAS)
Link: http://megapolitan.kompas.com/…/ahok.imbau.mahasiswa.ui.pem…
JADI, KALAU AHOK YANG SUDAH BIKIN RESAH MASYARAKAT TERUTAMA UMAT ISLAM YANG TELAH MENEBAR SARA, PAKAI PAKAIAN DINAS, PAKAI FASILITAS DAN DIBIAYAI DARI UANG NEGARA (UANG RAKYAT)...
APAKAH SELESAI HANYA DENGAN MINTA MAAF????
Kalau seperti yang diminta Ahok bahwa tak cukup Mahasiswa UI minta maaf (bahkan minta maafnya sudah pakai surat tertulis bermaterei) tapi harus dikeluarkan dari UI dan diusir ke Timur Tengah....
MAKA HUKUMAN APA YANG LAYAK UNTUK AHOK YANG TELAH MERESAHKAN UMAT ISLAM SE TANAH AIR DENGAN PENISTAAN ATAS KITAB SUCI AL-QURAN?
DIUSIR DARI JAKARTA??? DARI INDONESIA???

SINGA MELAWAN BUAYA DI TENGAH RAWA Oleh Laba laba beracun Mungkin itulah perumpamaan yang tepat atas perseteruan Erdogan dan Trump

SINGA MELAWAN BUAYA DI TENGAH RAWA.
Oleh : Laba laba beracun
Mungkin itulah perumpamaan yang tepat atas perseteruan Erdogan dan Trump. Kenapa saya pilih perumpamaan itu??? Ini alasannya.. :
Kita ketahui bersama bahwa Erdogan adalah salah satu sosok pemimpin yang dikagumi banyak orang karena keberaniannya. Namun kali ini, keberanian Erdogan justru semakin memperparah KRISIS EKONOMI TURKI.
Ancaman Erdogan untuk terus melawan perang dagang dengan Amerika membuat nilai tukar Lira sebagai mata uang Turki semakin anjlok. Alhasil, saat ini Turki tersudut dalam kondisi yang sulit.
Apakah keberanian Erdogan adalah sebuah kesalahan???
Penilaian saya, TIDAK. Keberanian Erdogan bukan sebuah kesalahan. Secara personal Erdogan adalah sosok pemimpin yang berani dan saya pun mengagumi keberaniannya.
Namun keberanian Erdogan ini tidak ditopang oleh SISTEM PEMERINTAHAN YANG TEPAT. Sejak runtuhnya sistem KHILAFAH pada tahun 1924 silam, Turki menyatakan diri sebagai Negara Sekuler.
Hal ini tentu saja membuat Turki mengadopsi aturan-aturan sekuler yang tidak disadari merupakan sebuah perangkap yang tidak akan pernah membuat Turki bisa kembali berdiri tegak selama Turki masih menerapkan SISTEM SEKULER tersebut.
Turki sebagai Negara berbasis Islam bahkan tercatat dalam sejarah pernah menjadi negara Adidaya dengan sistem KHILAFAH tentu saja sangat tidak mungkin akan mampu berdiri tegak dengan sistem SEKULER. Bukan hanya Turki tetapi seluruh Negeri yang berbasis Islam tidak akan mungkin mampu berdiri tegak dan berjaya dengan menerapkan sistem SEKULER.
Kesimpulannya :
Habitat bagi Singa adalah Darat, sehebat dan sekuat apapun Singa, ia tak akan berdaya jika melawan Buaya di tengah-tengah rawa.
Sistem yang TEPAT bagi negara-negara berbasis ISLAM adalah KHILAFAH, karena sistem SEKULER bertentangan dengan prinsip dasar ISLAM yang tidak memisahkan urusan negara dengan keterikatan pada hukum-hukum Allah.
Sehebat apapun pemimpin Negara yang berbasis Islam, seberani apapun ia dalam melawan orang-orang yang mendzalimi negeri-negeri muslim, selama negara tersebut tetap menggunakan sistem yang bukan merupakan "HABITAT" yang tepat baginya, ia tak akan berdaya.
Karena itu marilah sama-sama berjuang untuk mengembalikan sistem pemerintahan Islam, yaitu KHILAFAH yang akan mempersatukan negeri-negeri kaum Muslimin untuk melawan kedzaliman negara-negara kafir agar Islam kembali berjaya di atas muka bumi ini.
Karena kita bukan hanya membutuhkan PEMIMPIN MUSLIM YANG HEBAT tetapi juga membutuhkan SISTEM YANG TEPAT, yaitu KHILAFAH.
#KhilafahSolusiUmat
#KhilafahSatukanUmat
#KhilafahSistemIslam
#KhilafahAjaranIslam

Tak semua yang dilakukan pemerintahan Pabak Ir Jokowi buruk yang baik banyak

Tak semua yang dilakukan pemerintahan Pabak Ir. Jokowi buruk, yang baik banyak. Sama seperti pemerintah sebelumnya pastilah ada kekurangan yang perlu dikritisi. Banyak juga yang baik yang harus diapresiasi.
Tak semua dalam diri Bapak Probowo buruk, banyak yang baik. Sebagai manusia biasa pasti ada kesalahan (mungkin) tapi juga banyak hal baik yang perlu diapresiasi.
Namun yang terjadi sangatlah disayangkan ketika Bapak Jokowi dan Probowo saling menghormati tapi tidak untuk beberapa pendukungnya.
Mencari cari keburukan paslon lain tanpa memperhatikan kemanusian yang adil dan beradap, contoh 'Jokowi plonga plongo, 'Prabowo mimpin rumah tangga saja gak bisa apalagi mimpin negara'.
Ayolah kawaaan2 mikir sitik ae diimbangi karo hati yang bersih.
Kita sedang cari pemimpin negeri ini bung, bukan cari kejelekan orang lain.
Setiap orang wajib memilih tapi tak seorangpun punya hak membuli pilihan orang lain.
Aneh rasannya bila kedua belah pihak saling mencela, sebab dulu keduanya pernah bersatu mengusung pasangan capres dan cawapres. Kok seperti ketika pacaran diapik2 lakok pas putus lakok dielek2 (pacarannya anak labil).
Mengkritik dengan data tanpa celaan
Mendukung dengan data tanpa pencitraan.
Cobak kita mulai berdamai dengan diri untuk tidak saling panas2an dengan meme yang menimbulkan kejengkelan pendukung pasangan lain.
Mengkritik dengan cerdas membela dengan santun.
Bapak Jokowi orang baik begitu juga Bapak Prabowo hanya saja mereka harus merebutan suara rakyat. Mereka tidak saling bermusuhan.
Jangan sia2kan hidup kita dengan mendukung salah satu kemudian mengejek lainnya.
Apakah kita dibayar bila sukses mencela paslon lain?
Jadi
Sangat sia2
Bahkan orang akan semakin antipati pada pilihan kita ketika kita terus2an mengejek paslon lain bukan karena gak suka dengan paslonnya tapi dengan pendukungnya.
Hanya mencoba menjadi sebijak mungkin di tengah2 banyak pihak yang hilang kebijaksaannya karena keberpihakan.
By
Slombat 21 Agustus 2018.

http www merdeka com pemerintah diminta pertimbangkan g

http://www.merdeka.com/…/pemerintah-diminta-pertimbangkan-g…
Pemerintah diminta Pertimbangkan Grasi Merry sebelum dieksekusi
Merdeka.com - Kuasa hukum terpidana mati Merry Utami mengecam pemerintah yang memasukkan nama kliennya dalam daftar eksekusi mati tahap tiga. Padahal, saat ini Merry Utami sedang mengajukan grasi ke Pengadilan Negeri Tangerang pada Selasa 26 Juli 2016.
Perwakilan dari LBH Masyarakat, Arinta Dea mengatakan, pemerintah tidak hanya melanggar hak seseorang terpidana tetap memasukkan Merri ke dalam rencana eksekusi terpidana mati gelombang ketiga. Namun juga melakukan pembangkangan terhadap konstitusi dan hukum internasional.
"Dalam konvensi hak sipil dan politik menyatakan bahwa seseorang yang dihukum mati harus memiliki hak untuk mengajukan permintaan maaf atau komukasi atas hukumannya. Sistem hukum Indonesia memfasilitasi hak ini," kata Arinta, Rabu (27/7).
Selain itu, Arinta mengemukakan pemerintah tidak boleh menutup mata pada kerentanan perempuan yang menjadi kurir narkotika. Ia menyebut, kasus Marry Jane seharusnya cukup memberikan pelajaran bahwa perempuan dan buruh migran sangat rentan dieksploitasi jaringan narkotika internasional.
"Modus ini akan terus berulang, jaringan peredaran narkotika akan mudah mencari pengganti perempuan-perempuan yang ditangakap dan dieksekusi. Hukuman mati yang dijatuhkan kepada perempuan-perempuan korban manipulasi ini tidak berdampak pada berkurangnya peredaran narkotika," ujarnya.
Selama ini, Arinta mengatakan, adanya penyiksaan secara fisik dan psikologis yang dialami kliennya. Indikasi tersebut merupakan bentuk pelanggaran hukum.
"Selama pemeriksaan hukum, Merry mendapat kekerasan fisik berupa pemukulan hingga mengalami gangguan penglihatan," jelas Arinta.
Selain itu, kliennya mendapatkan pelecehan seksual. Tak hanya itu, selama proses penyidikan Merry tidak mendapat bantuan hukum yang memadai.
"Penyiksaan fisik dan seksual ini menjadi indikasi pemeritah tidak dapat menjamin tegaknya aturan hukum," kata dia.
Merry Utami ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena membawa 1,1 kilogram heroin dan divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang pada tahun 2003. Merry termasuk dari empat belas terpidana mati peserta eksekusi tahap tiga yang akan dilaksanakan di lapangan tembak Tunggal Panaluan Pulau Nusakambangan Cilacap.

Survey LSI itu punya dua tujuan saja Survey LSI yang menyebut paslon Jokowi Maaruf aman karena dipilih lebih dari 50 responden itu sebenarnya punya dua tujuan

Survey LSI itu punya dua tujuan saja;
Survey LSI yang menyebut paslon Jokowi-Maaruf aman karena dipilih lebih dari 50% responden itu sebenarnya punya dua tujuan.
1) Memberikan landasan empiris untuk tetap menempatkan dominasi Jokowi. Ini untuk mendongkrak pencitraan jika Jokowi mandiri with or without Maaruf. Dari puluhan Survey Monyet via sosial media yang viral di kedua pihak maka paslon Prabowo Sandi unggul rata-rata 56-59 persen. LSI perlu menyalip arus digital ini sekaligus merebut pasar survey.
Tetapi berkaca pada kasus-kasus di pilkada DKI, Jateng, dan Jabar ide ini tidak terlalu akurat Khalayak faham jika alasan dari drama empat bulan terakhir sampai malam penentuan balonwapres lalu itu, terjadi karena elektabilitas Jokowi di bawah 34%. Ia tersandera dengan wajib mencari sosok yang bisa mendongkrak nya.
Kondisi berbeda pada SBY periode 2 yang sangat pe-de menjaring balonwapresnya via konvensi partai segala.
2. Selanjutnya survey memberikan legitimasi empiris bagi geraan geser Maaruf Amin ke depan.
Boleh percaya atau enggak, tetapi Survey LSI ini mendahului niat dari maksud Kata penulis Gunter Grass, apa yang mesti diinginkan harus dikatakan di depan.

Selamat Datang Momentum Perubahan 2018 adalah tahun Demokrasi rakyat NTT Tahun dimana rakyat kembali diperhadapkan pada pilihan pilihan untuk menyeleksi pemimpin NTT 2018 mendatang

Selamat Datang 'Momentum Perubahan'
2018 adalah tahun Demokrasi rakyat NTT. Tahun dimana rakyat kembali diperhadapkan pada pilihan-pilihan untuk menyeleksi pemimpin NTT 2018 mendatang.
Pada tahun 2018 juga menjadi penentu perubahan dan perbaikan NTT dari 'Nanti Tuhan Tolong' menjadi 'Nusa Tanah Terjanji'. Jalan ini tentu dengan mendukung dan memilih pemimpin yang mempunyai gagasan dan visi, sesuai dengan potret sosial ekonomi NTT saat ini.
Harus kita bersepakat bahwa persoalan kemiskinan, human traficking dan segudang persoalan lainnya yang menyelimputi NTT adalah dampak dari stuktur pemberdayaan dan pembangunan ekonomi yang tidak terencana, sehingga NTT selalu menjadi provinsi yang Maju dan mandiri.
Fakta membuktikan bahwa daerah ini belum bisa sejajar dengan provinsi-provinsi lainnya di Nusantara yang sudah sangat maju diberbagai aspek pembangunan. Sehingga sampai hari ini NTT masih butuh bantuan dari pusat.
Ibarat pepatah mengatakan "Tikus mati di lumbung padi", pepatah ini mengoreksi keadaan NTT yang potensi sumberdayanya luar biasa tapi rakyat masih miskin, bahkan data statistik menunjukan angka kemiskinan NTT 22,19 % atau 1.150.080 jiwa dari 5,3 juta jiwa. NTT mendapat predikat termiskin ke tiga dari 34 provinsi.
Hal ini memantik kita untuk mulai berpikir tentang pemimpin yang tepat untuk mengatasi problem kemiskinan tersebut. Saat ini menuju momentum 2018, sudah ada beberapa nama bakal calon gubernur yang sedang meramaikan publik NTT, tapi cuman satu orang yang merupakan ekonom, seorang bankir sukses yakni Bapak Daniel Tagu Dedo.
Bapak Daniel Tagu Dedo adalah sosok yang memahami betul, soal pembangunan ekonomi NTT secara cepat dan tepat sasaran, berbasiskan semangat Ideologi Kerakyatan. Sehingga Tagline "Melangkah Lebih Cepat, Untuk NTT yang MAJU, MANDIRI dan BERMARTABAT" menjadi visi pembanguan NTT 2018-2023.
Dalam semangat kerakyataan Daniel Tagu Dedo dari kampung ke kampung, mengajak rakyat untuk berpikir dan berjuang bersama dalam membangun NTT. Untuk memulai langkah ini, Bapak Daniel Tagu Dedo melakukan petualang perubahan dari sudut barat pulau Flores, Labuan Bajo menjadi titik awal gerakan perubahan untuk NTT Kita.
Welcome To Flores; Bapak Daniel Tagu Dedo, tokoh perubahan yang akan membawah NTT, menuju masa depan yang cemerlang. Bersama Bapak Daniel Tagu Dedo, mari kita berjuang dan meraih mimpi-mimpi, Mari kita bangun kita kesadaran koletif dalam gerakan bersama untuk meraih momentum Perubahan ini.
#PowerOfChange
#PenaMarhaenis

Catatan Tengku Zulkifli Usman Aa Gym itu Da i yang lemah lembut kalem damai dan anti kekerasan

*Catatan Tengku Zulkifli Usman*
Aa Gym itu Da'i yang lemah lembut, kalem, damai dan anti kekerasan.
Kalau dalam kacamata syariah, gak ada kesalahan fatal yang beliau lakukan, tapi beliau dibusukkan lewat isu poligami.
Habib Rizieq da'i yang tegas, beliau bukan keras apalagi brutal.
Langkah langkahnya selalu pakai payung hukum, taat asas, taat konstutusi, gak suka melanggar aturan negara, tapi namanya dibusukkan lewat isu chat mesum palsu murahan.
Ustadz Abdul Somad da'i yang lugas, jelas, tegas dan selalu menyerukan persatuan, langkah langkahnya juga konstitusional, tapi namanya dibusukkan dengan isu pendukung HTI dan Terorisme.
PKS itu partai politik yang moderat, haluan politiknya humanis, jalan tengah antara ekstrem kiri dan kanan, jauh dari kata radikal.
Langkah langkah politik PKS masuk logika demokrasi modern, tidak ada aturan yang ditabrak, tapi tetap saja dibusukkan lewat isu isu murahan lain sebagai partai radikal, partai penyebar bibit paham ekstrem dst.
Sesungguhnya sasaran mereka bukan Aa Gym, bukan Habib Rizieq, bukan Ustadz Abdul Somad, bukan PKS, tapi sasaran mereka yang sesungguhnya adalah Islam, ya Islam adalah sasaran tembak mereka.
Musuh musuh Islam bekerja keras membusukkan tokoh tokoh Islam, baik secara individu maupun secara institusi, mereka membayar media, relawan dst dst, agar nama Islam buruk dan tokoh Islam jadi busuk.
Apa boleh buat, masyarakat awam yang mayoritas menghuni negeri ini tidak paham apa itu agenda setting, apa itu konspirasi, apa itu media-malaise, apa itu teori preming dan framing, dan apa itu spin doctor yang bekerja siang malam menjelekkan Islam.
Otak muslim kita dicuci, yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, penjahat dianggap pahlwan, penjahat dibilang ulama, sedangkan pahlawan dianggap penjahat, tokoh yang lurus dibusukkan, tokoh Islam yang menyimpang dipuja puji.
Sasaran mereka adalah Islam, karena kalau nama Islam sudah busuk, maka partai Islam juga akan busuk, pasar Islam juga akan sepi, tujuan besar mereka adalah melemahkan Islam dari berbagai sisi.
Semua isu yang mereka angkat, baik dari isu pribadi poligami sampai isu sensitif soal terorisme, semua mereka kemas dengan baik, dengan packaging yang cantik yang tujuan akhirnya adalah men down grade Islam secara menyeluruh, sayangnya, muslim awam kadang ikut nyinyir sesamanya.
Muslim awam ikut nyinyir poligami Aa Gym, ikut menyerang Habib Rizieq, ikut ikutan menuduh UAS itu radikal, ikut menyerang PKS sebagai partai Islam yang sama dengan yang lain.
Misi musuh kita kadang tercapai bukan karena mereka pintar, tapi karena kebodohan kita sendiri, kedunguan kita, kurangnya self criticism kita, kita sibuk riuh ricuh itu, karena kita selalu lupa akan tema utama yang lebih urgent bin darurat untuk dibahas, kita lupa tangan tangan kotor yang beroperasi setiap detik untuk melemahkan Islam.
#copas
#copy_paste_sebarkan

Umar bin khattab zaman sahabat malem malem blusukan diem diem kasih subsidi rakyat ringanin beban rakyat

Umar bin khattab zaman sahabat, malem-malem blusukan diem-diem kasih subsidi rakyat, ringanin beban rakyat.
Umar bin Khattab yang katanya zaman now, siangnya bagi sembako, malemnya cabutin subsidi rakyat.
#Siangnya Kampanye
#Malemnya tambahin derita rakyat yang berkelanjutan.
Kalo subsidi tidak diturunkan hanya dituker dengan sembako yang tidak menyeluruh, tapi ekspos media sekaan dapat semua.
Rezim udah kalap kebingungan buat bayarin tagihan yang menjulang dengan dalih pembangunan infrastruktur yang sejatinya kalau udah jadi belum bisa digunakan untuk membahagiakan rakyat kecil, hanya kalangan elit yang bisa menggunakan fasilitas itu.
Tapi wong cilik yang ikut partisipasi dalam pembangunannya dengan dicabutnya berbagai macam subsidi.
tidak membencinya karena beliau-beliau jg muslim, tapi benci karena kebijakan-kebijakannya yang gak pro terhadap islam, tapi justru malah membenci kelompok bahkan menyerang islam
#udah gak pro wong cilik
#gak jg pro islam
#2019GantiPresiden
#2019GantiSupir

Beberapa waktu lalu saya pernah membagi link artikel dari New York Times yg diterbitkan hanya 4 hari sesudah Soeharto lengser

Beberapa waktu lalu saya pernah membagi link artikel dari New York Times yg diterbitkan hanya 4 hari sesudah Soeharto lengser.
Artikel tersebut memprediksi Indonesia pasca jatuhnya Orde Baru akan mengalami 2 hal yakni: Balkanisasi dan kebangkitan Islam politik, dan itu ditulis dengan penalaran yang cukup baik.
Dari kedua prediksi tersebut, yg meleset adalah terjadinya Balkanisasi, namun tidak dengan bangkitnya Islam politik. Sesudah Reformasi yg dilanjutkan dengan Pemilu 1999 yg paling demokratis itu, memang bermunculan berbagai partai bernafas Islam, namun belum menjadi bahan polemik. Bahkan PK sebagai cikal bakal PKS mendapat apresiasi baik dan konstituen yg militan.
Sekarang dua dekade berselang, dengan prediksi presisi tentang bangkitnya politik Islam, terlihat betapa tidak siapnya kita dengan antisipasi2 rasional yang mudah diperhitungkan oleh jurnalis kawakan NYT.
Debat kusir tentang agama yg dibenturkan dgn 'sekularisme' bahkan ada yg terang2an menginginkan kembalinya represi politik identitas/Islam politik a la Orba dalam berbagai isu aktual yg menjadi bahan polemik di media maupun medsos, menunjukkan dengan baik bahwa masyarakat dan elit politik kita sendiri tidak tahu cara mengelola anasir2 politik yang selama ini direpresi.
Jadi kapan kita akan jadi bangsa yg antisipatif dan cerdas belajarnya? Masak kalah presisi dengan jurnalis luar negeri dari NYT? ???

Ketika Agama Kehilangan Tuhan Oleh KH A Mustafa Bisri Gus Mus Dulu agama menghancurkan berhala Kini agama jadi berhala Tak kenal Tuhannya yang penting agamanya Dulu orang berhenti membunuh karena agama

Ketika Agama Kehilangan Tuhan
Oleh: KH. A. Mustafa Bisri/Gus Mus
Dulu agama menghancurkan berhala. Kini agama jadi berhala. Tak kenal Tuhannya, yang penting agamanya.
Dulu orang berhenti membunuh karena agama. Sekarang orang saling membunuh karena agama.
Dulu orang saling mengasihi karena beragama. Kini orang saling membenci karena beragama.
Agama tak pernah berubah ajarannya dari dulu,Tuhannya pun tak pernah berubah dari dulu. Lalu yang berubah apanya? Manusianya?
Dulu orang belajar agama sebagai modal, untuk mempelajari ilmu lainnya. Sekarang orang malas belajar ilmu lainnya, maunya belajar agama saja.
Dulu pemimpin agama dipilih berdasarkan kepintarannya, yang paling cerdas diantara orang-orang lainnya. Sekarang orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama.
Dulu para siswa diajarkan untuk harus belajar giat dan berdoa untuk bisa menempuh ujian. Sekarang siswa malas belajar, tapi sesaat sebelum ujian berdoa paling kencang, karena diajarkan pemimpin agamanya untuk berdoa supaya lulus.
Dulu agama mempererat hubungan manusia dengan Tuhan. Sekarang manusia jauh dari Tuhan karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan agama.
Dulu agama ditempuh untuk mencari Wajah Tuhan. Sekarang agama ditempuh untuk cari muka di hadapan Tuhan.
Esensi beragama telah dilupakan. Agama kini hanya komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama, karena semua yang berbau agama telah didewa-dewakan, takkan pernah dianggap salah, tak pernah ditolak, dan jadi keperluan pokok melebihi sandang, pangan, papan. Agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tak tahu lagi mesti mengerjakan apa.
Agama kini diperTuhankan, sedang Tuhan itu sendiri dikesampingkan. Agama dulu memuja Tuhan. Agama kini menghujat Tuhan. Nama Tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama Tuhan.
Tuhan mana yang mengajarkan tuk membunuh? Tuhan mana yang mengajarkan tuk membenci? Tapi manusia membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama Tuhan, berpikir bahwa Tuhan sedang disenangkan ketika ia menumpahkan darah manusia lainnya.
Agama dijadikan senjata tuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi Tuhan, dan sedang mengubur Tuhan dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama.
[Rawahu dutaislam]