A PERSONAL STORY Pertengahan tahun 90 an saya aktif di sebuah LSM di Maumere

A PERSONAL STORY
Pertengahan tahun 90-an, saya aktif di sebuah LSM di Maumere. Di sini saya berinteraksi dengan aktivis dan tokoh LSM nasional. Berkat koneksi ini, saya ditawari beasiswa, belajar di L'Institute International des Droits de L'Homme di Strassbourg, Prancis..
Cerita berawal pada bulan Maret 1996, saat saya menghadiri pertemuan yang diselenggarakan UNDP di Sahid, Jakarta. Saya mewakili Forda Walhi NTT, dan memaparkan penelitian saya tentang dampak kebijakan hutan tutupan di Lodong/Runut, di timur Maumere. Saya semimbar dengan Tom Benal (tokoh suku Amungme) dan peneliti LIPI serta beberapa perwakilan dari negara Asia, di seminar yang dimoderasi seorang Guru Besar dari India--kalau tidak keliru ingat.
Seorang wanita cantik suku Batak menawarkan kalau saya mau ikut program beasiswa yang disponsori Frederich Neumann Stiftung. Saya iyakan, lalu diantar ke kantor INFID untuk bertemu Asmara Nababan--Sekjen Komnas HAM ketika itu.
"Bah, kukira Flores sudah tenggelam," kata Asmara setelah tahu saya dari Flores.
"Kenapa Flores tenggelam, Pak?"
"Iyalah! Si...turun dari pesawat, kalian tandu. Seolah dia tidak punya kaki".
Saya terkekeh. Tak mau kalah digertak orang Batak.
Hari berikutnya saya dipertemukan dengan direktur FNS, Vincent Graichan. Saya diwawancara dengan format diskusi. Topiknya politik dan HAM. Diskusi diawali dengan bahasa Indonesia beberapa menit, kemudian sekitar 10 menit dalam bahasa Inggris, dan selanjutnya berbahasa Prancis. Vincent kemudian menelpon sekertarisnya dan bilang saya eligible atau memenuhi syarat, dan agar diproses. Bahasa pengantar di institut HAM adalah Inggris, Prancis, Spanyol dan Arab.
Kembali ke Flores, saya berubah pikiran. Beberapa kali FNS kirim telegram, bahkan hingga setelah saya putuskan resign dari LSM tadi. Saya suka bicara dan diskusi politik, tapi tidak mau terlibat dalam aktivisme politik praktis. Naif? Mungkin. Menoleh ke belakang dan melihat diri sekarang, saya mensyukuri keputusan saya itu. Tiada jaminan aktivisme saya akan diwarnai kesadaran (meskipun paham kredo bahwa memperjuangkan perubahan harus terlibat di dalam, dari dalam. Berarti perlu pangggung, harus ada kursi)
Awal tahun 2000 beberapa petinggi partai berbeda, menawarkan saya untuk bergabung dengan mereka.. Saya menolak dengan alasan saya tidak punya bakat politik. Walau saya suka omong politik.
Saya bisa melayani masyarakat tanpa mesti jadi politisi. Biarlah kursi politik diperuntukan bagi mereka yang sungguh berbakat.
Saya
07/06/2019
13 Komen:
Ani Paga
07-06-2019, 15:33:27
mantap nara. sayang banget kesempatan ke Prancis tidak diambil
Bambang Subiantoro
07-06-2019, 15:33:27
Paham politik tp nggak mau jd politikus ...salut Bang Dominggus Koro
John Orlando
08-06-2019, 15:33:24
Tepuk salut untuk abang Dominggus Koro
Hendrik Serani
08-06-2019, 15:33:24
Saya kira alternatif terjun ke politik untuk sekarang ada di PSI..partai solidaritas Indonesia...he..he...
John Orlando
09-06-2019, 15:33:24
Hahaha tujuan boleh samaJalan menuju mungkin berbedaBeda warna itu seniItu baru harmoni
Dominggus Koro
09-06-2019, 15:33:24
Harus serius, all out, dan menjadi politisi pejuang. Bukan politisi pekerja. Hong John Orlando ??
Hendrik Serani
10-06-2019, 15:33:22
keluarga Lamaholot siap dukung wkwkkw
John Orlando
10-06-2019, 15:33:22
Abang Dominggus KoroSemoga bisa dan tetap menjadi pejuangSoal jadi politisi mungkin saatnya akan tiba abangTapi sekarang biarlah arus ini membawa kemanaAbang Hendrik Serani sdh jdi politisi tu tapi masih suam2 kuku sekaligus sembunyi kuku hahaha
Hendrik Serani
11-06-2019, 15:33:21
Mantab pak ketua sharingnya..karena..banyak juga yang masih cari jati diri. antara terjun ke politik atau berkarya dilain bidang.
Eddy Kurniawan
11-06-2019, 15:33:21
Sy memahaminya dengan baik dari tulisan2 Abang..Berkualitas...
Oktavian Waja
12-06-2019, 15:33:21
Belum berorintasi ke yg praktis, tapi sudah ada niat yg komplit..ehm..
Wahyu Widayat
12-06-2019, 15:33:21
Luar biasa mas. Komitmen dan integritas yg teruji
Minsia Laetizia
13-06-2019, 15:33:18
Mirip cerita seorang petinggi di kementerian Pariwisata asal Flores juga..

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *

Artikel berkaitan