Adakah Jalan Ketiga Untuk bergerak setidaknya kita dihadapkan pada dua pilihan politik kelas atau politik identitas

[Adakah Jalan Ketiga?]
Untuk bergerak, setidaknya kita dihadapkan pada dua pilihan: politik kelas atau politik identitas. Dalam Hubungan Internasional, keduanya mirip teori yang saling berhadapan: kosmopolitanisme vis-a-vis komunitarianisme.
Jika yang pertama tidak mensyaratkan mutlak adanya batas teritorial, maka pada yang kedua justru batas itu menjadi prasyarat yang harus dipenuhi.
Tapi jika disuruh memilih, maka saya lebih memilih politik kelas sebagai landasan gerak. Artinya, internasionalisme menjadi tujuan penting, jika bukan utama, dari politik ini. Apakah berarti tidak diperlukan adanya identitas? Dalam filsafat pun identitas masih bisa diperdebatkan: entah itu masuk dalam ranah individu atau kolektif. Tapi, yang jelas, identitas akan selalu ada dalam keduanya --atau 'kualitas primer' dalam bahasa Galilean.
Maka, di mana posisi kelas dalam identitas? Apakah adanya kelas menghapus identitas yang sudah melekat? Sebetulnya jika diteliti lagi, politik kelas bukan berarti menghapus identitas. Mana mungkin ras, suku, atau agama dihapuskan dalam individu atau kolektif? Jika pun bisa, artinya ada pemaksaan di dalamnya. Dalam skala lebih luas bisa disebut genosida. Tapi tidak, politik kelas tidak mengarah ke sana.
Sedikit mundur ke belakang, saat Sarekat Islam (SI) didirikan, semangatnya memang untuk melawan hegemoni pedagang Tionghoa yang memiliki kasta di atas pedagang pribumi berdasarkan pembagian pemerintah Hindia Belanda. Tidak bisa dipungkiri anggota SI saat itu direkatkan oleh identitas agama. Dalam kondisi saat itu, posisi pedagang pribumi --khususnya di Jawa-- mayoritas beragama Islam yang kondisinya (di)marjinal(kan). Artinya, ada irisan di sana antara kelas pedagang pribumi dengan identitas agamanya.
Maka, saya sepakat dengan Kuntowijoyo, harus ada ilmu sosial profetik yang menjadi paradigma umat dalam menciptakan Islam yang rahmatan lil alamin.
Mungkinkah ini bisa menjadi jalan ketiga?
12/07/2019
2 Komen:
Ahmad Suhijriah
12-07-2019, 03:15:40
?
Raka Gusfi Wisesa
12-07-2019, 03:15:40
Gua sepakat untuk memberikan 'jalan ketiga' terhadap saran mbah kuntowijoyo, namun dengan nalar kearifan lokal.Inget bahwa se-asimilatif-nya gerakan kontemporer, manusia pada akhirnya akan mengakui identitas 'asli'nya. CMIIW.

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *

Artikel berkaitan