Adi menganggap kepala daerah yang memiliki program berbasis agama kerap terjebak pada simbolitas agama tanpa memperhatikan substansinya

Adi menganggap kepala daerah yang memiliki program berbasis agama kerap terjebak pada simbolitas agama tanpa memperhatikan substansinya. Ia menganggap kebijakan berbasis agama yang artifisial itu sebenarnya tidak berguna jika tidak diiringi perbaikan atau implementasi nilai agama.
Dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah itu menganggap kepala daerah yang tertangkap KPK tidak mengaplikasikan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Buktinya, mereka terlibat dalam perkara korupsi yang disebut Adi sudah jelas dilarang berbagai agama.
“[Kebijakan itu] hanya untuk memposisikan diri sebagai pemimpin pro-Islam, peduli aspirasi umat Islam, tapi kenyataannya tak begitu. Kalau belajar Islam secara serius dan substansial banyak sekali ancaman untuk orang yang nyolong dan korupsi,” ujar Adi.
Penggunaan agama sebagai alat politik memang masih jamak di Indonesia. Adi menganggap hal itu terjadi karena masyarakat Indonesia mudah dikelabui dengan hal-hal yang bersifat artifisial.
11/09/2019

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *