Cinta Dan Swastika Cinta seperti apa Katamu senja itu Aku tak menjawab Bungkam Kemudian kau menyeretku ke sebuah kursi Kita duduk Ya berdua saja Seakan akan kau membutuhkan sebuah jaminan atas pernyataan cinta itu

Cinta Dan Swastika
"Cinta seperti apa?" Katamu senja itu.
Aku tak menjawab. Bungkam. Kemudian kau menyeretku ke sebuah kursi. Kita duduk. Ya berdua saja. Seakan-akan kau membutuhkan sebuah jaminan atas pernyataan cinta itu. Aku manut. Diam. Kemudian menatap kedua bola matamu. Teduh. Bening. Cahaya berkilauan di sana.
"Apa perlu aku menjawabnya?" Ujarku menegaskan.
"Wajib. Itu kan pertanyaan?" Katamu.
"Tidak semua pertanyaan harus dijawab, Dik!"
"Jika wajib bearti kosekuensi dari yang tak boleh dihindari," ungkapmu.
"Itu pernyataanmu bukan dariku."
"Sudahlah. Aku butuh jawaban bukan argumen." Kau memalingkan wajah. Memunggungiku juga.
"Dik," sembari menjawil tanganmu agar kau melihat ke arahku. Dan mendengarkan kata-kataku.
"Jika cintaku padamu serupa mawar, tentulah binasa jika ia layu. Lunglai. Rontok. Rapuh."
"Kau jangan berfilosofi gitu, aku ndak mudeng." Kau manyun.
"Ya, sungguh, Dik. Cinta itu tak bisa diungkapkan oleh simbol apapun. Ia tumbuh sendiri. Mekar semaunya. Membelukar sejadinya. Ada duri pun tetap orang-orang memetik seperti mawar itu."
"Begitukah?"
"Hu umz."
"Kok, jawabnya cuma itu?"
"Aduh, Dik! Swastika pun simbol cinta. Namun di tangan Hitler semuanya menjadi menakutkan."
Kau menatapku penuh tanya.
Dik, aku tak mengapa dicecar karena cinta. Toh, sejatinya ia ada dalam diri kita. Ia tak perlu kata-kata. Meski ia perlu kata-kata ia sungguh bukan kata-kata.
11/06/2019
1 Komen:
Wahyu Pratiwi Suwarni
11-06-2019, 03:29:34
Izin share... Romantis booo

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *