ETIKA BERPOLITIK Ir KPH Bagas Pujilaksono WIDYAKANIGARA M Sc Lic Eng

ETIKA BERPOLITIK
Ir. KPH. Bagas Pujilaksono WIDYAKANIGARA, M.Sc., Lic.Eng., Ph.D.
UNIVERSITAS GADJAH MADA
Jargon politik "2019 Ganti Presiden" itu sekilas tampak syah-syah saja di negara demokrasi. Tetapi jika dipikirkan lebih mendalam, maka akan sangat menciderai nilai demokrasi itu sendiri. Dan ini bukan sekedar himbaun moral, namun jelas ada motivasi politik. Bukannya ini langkah mencuri garis start kampanye? Pemilu saja belum, koq muncul jargon-jargon politik "2019 Ganti Presiden".
Apalagi fakta survai tidak menunjukkan ke arah itu lalu argumen rasionalnya apa yang dijadikan dasar? Merongrong Pemerintah? Pemerintah yang terpilih secara demokratis adalah representasi Negara. Jadi menghujat Pemerintah sama saja menghujat Negara. Apalagi muncul kata-kata: "Bapak Jokowi, sadarlah, rakyat ingin presiden baru". Rakyat yang mana?
Hasil survai tingkat kepuasan rakyat terhadap Presiden Jokowi diatas 60%. Apa bisa seenaknya mengatas-namakan rakyat untuk tujuan politik dari kelompok tertentu? Ini generalisir salah kaprah. Sungguh memalukan. Seorang politikus mustinya menjaga etika dan moral dalam perilaku politiknya. Lebih baik, energinya disalurkan untuk menyusun program yang bermutu dan bermanfaat bagi rakyat, untuk diadu di Pilpres 2019. Mau milih pak Jokowi silakan, mau milih pak Prabowo ya silakan. Bebas, ini pilihan politik seseorang. Jadi tidak perlu ada upaya-upaya yang sifatnya provokatif dan menyebar fitnah hanya untuk membunuh karakter seseorang. Mari kita berdemokrasi yang sehat, jantan dan bertanggung jawab.
Siapapun yang menang di pilpres 2019, harus kita hormati dan kita akui sebagai kemenangan bersama dalam membangun bangsa. Manuver-manuver politik para elit politik saat ini sudah kebablasan dan berkualitas comberan, demokrasi bar-bar alias tanpa fatsun politik. Agama yang seharusnya dijadikan rujukan moral dan etika, malah dijadikan instrumen politik untuk mencari kebenaran dalam menghalalkan caranya, yang dalam banyak hal sangat amoral.
Yang tergambar di otak saya setelah baca jargon politik "2019 Ganti Presiden" adalah manuver politik segerombolan orang yang birahi politiknya luar biasa besar, ingin segera berkuasa, sehinga menghalalkan segala macam cara. Akibatnya, tidak bisa melihat fakta dan tidak mampu menerima fakta politik secara legowo. Sekali lagi, Pemerintah hasil pemilu yang demokratis adalah representasi Negara. Tidak selayaknya dirongrong seperti itu... nauzubillah minzallig....
28/11/2019
2 Komen:
Andralia Larasati Damayanti
28-11-2019, 09:52:53
Setuju pak Iwan H. Suriadikusumah... Semua hiruk pikuk ini cm berujung pada keserakahan atas kekuasaan. Sudah tidak ada etika ketimuran dlm berpolitik saking laparnya. Brutal dan jahat. Semua celah dihantam tanpa mengindahkan hati nurani. Miris.
Henny Supolo
28-11-2019, 09:52:53
Seseorang yang meninggalkan kelayakan dan kepatutan sebetulnya perlu dipertanyakan kelayakannya berada di lingkungan akademis..

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *

Artikel berkaitan