Hingga malam ini update hasil rekapitulasi quick count sejumlah lembaga survei telah mengkonfirmasi kemenangan pasangan Anies Sandi

Hingga malam ini update hasil rekapitulasi quick count sejumlah lembaga survei telah mengkonfirmasi kemenangan pasangan Anies-Sandi. Dari konfirmasi kemenangan ini, hal yang menarik bagi saya adalah besarnya selisih suara dengan perolehan petahana, yaitu di kisaran 8%. Besaran selisih ini di atas prediksi saya sendiri yang memperkirakan bahwa pemenang akan mencatat keunggulan tipis, sekitar 3%.
November tahun lalu saya menulis bahwa basis suara siapapun yang melawan petahana adalah 47% berdasarkan baseline hasil pilgub 2012 dan pilpres 2014 di Jakarta. Siapapun yang menantang petahana akan mendapatkan keuntungan dari sentimen primordial yang diwariskan dari kedua ajang politik sebelumnya. Saya juga memprediksi bahwa perebutan suara swing voters akan terjadi, terutama di kelompok pemilih yang merasa dirugikan oleh kebijakan petahana. Hasil sementara rekapitulasi quick count yang mengindikasikan Anies dan Sandi memperoleh suara 58% menunjukkan bahwa mereka setidaknya memperoleh tambahan 10% dari pemilih yang beralih.
Hasil berbagai survei sebelum hari ini menempatkan sentimen primordial menjadi faktor yang signifikan untuk keunggulan Anies-Sandi, tapi yang memperkuat sentimen ini adalah ketidakpuasan atas kebijakan penggusuran dan reklamasi yang dilakukan oleh Ahok. Campur aduk isu primordial dan penggusuran serta reklamasi dalam setahun terakhir membuat kans petahana untuk meraup suara di kantong-kantong pemilih di kelompok ini menjadi sangat minim dan terbukti demikian di dalam dua putaran pilkada Jakarta ini.
Kekalahan Ahok di pilkada ini menjadi indikator proyeksi hasil Pilpres 2019. Hal ini disebabkan karena kesamaan kubu kandidat yang akan bersaing. Jakarta menjadi arena mini untuk pilpres, terutama karena emosi dan sentimen dalam skala nasional terlibat di ajang politik ini. Saya yakin jika duel Jokowi dan Prabowo terulang lagi, maka selain akan ada pengulangan perang isu seperti di pilpres 2014, kubu Prabowo juga akan menggunakan opini atas kinerja Jokowi sebagai bahan kampanye.
Bercermin dari kasus Ahok yang terjungkal karena opini miring atas kebijakannya, Jokowi yang sangat menekankan strategi developmentalisme berisiko menghadapi hadangan yang sama. Opini dan reaksi dari kelompok aktivis idealis atas proses dan dampak kebijakan pembangunan akan menjadi salah satu penentu utama akumulasi suara di 2019 seperti di Jakarta saat ini. Jika Ahok diganjal dengan film dokumenter Jakarta Unfair dan rilis laporan LBH, maka film-film dan rilis serupa akan marak menjelang 2019.
13/06/2019
3 Komen:
Purri Andriaty
13-06-2019, 03:29:36
Kl dr data pooling...pendukung no 2 konsisten dari putaran pertama ya? Hhmmm menarik
Destika Art
13-06-2019, 03:29:36
Berarti mulai sekarang jokowi harus mengumpulkan basis kekuatan dong. Terlebih di kubu prabowo ada pks yang memiliki kekuatan akar rumput
Parada Sitorus
14-06-2019, 03:29:32
Sepertinya menghadapi Pilpres 2019 Jokowi nothing to lose... Periode ini Jokowi banyak melakukan percepatan pembangunan infrastruktur di semua wilayah dan meningkatkan pelayanan publik. Rakyat akan merasakan perubahan nyata dan cepat dalam era Jokowi. Nanti rakyat akan berkalkulasi sendiri pilih Jokowi atau Prabowo. Apalagi kalau kinerja Anies - Sandi,gubernur Jakarta besutan Prabowo tidak sehebat Ahok - Djarot,rakyat akan merasa tertipu dan berpikir ulang untuk pilih Prabowo... Bagi Jokowi nggak terpilih lagi rapopo,paling pulang kampung. Tapi rakyat sudah kadung merasa rugi kalau bukan Jokowi presidennya.

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *