Ketika ulama berpolitik Setahun yang lalu saya masih sangat antipati dengan dwifungsi ulama

Ketika ulama berpolitik
Setahun yang lalu saya masih sangat antipati dengan dwifungsi ulama. Pemahaman jaman jahiliyah dulu, menganggap ulama itu cukup ngajari sholat sama ngaji saja, perbanyak santri, ngurusi pesantren. Ketika seorang ulama terjun dalam politik, maka ia tak suci lagi, tak murni lagi, karena bersentuhan dengan 'dunia abu-abu'.
Benarkah pemahaman seperti itu? Jelas kerdil dan hanya menafikan peran agama dalam bernegara. Sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi bukti kalau founding fathers bangsa ini telah sepakat bahwa pembangunan harus dilandaskan pada nilai-nilai spiritualitas yang dianut oleh ragam suku bangsa yang ada di Indonesia.
Dan pemilik saham terbesar di Negara ini adalah ummat Islam. Maka sudah sepatutnya produk hukum dan segala aturan bernegara harus dilandasi dengan semangat keislaman. Ini hal lumrah bung! Di India, aturan hukumnya sudah pasti mengacu pada ajaran hinduisme. Di Filipina, tentu mengadopsi ajaran Injil. Di Thailand dan Myanmar, ajaran Buddha mewarnai segenap Undang-undang yang dikeluarkan oleh Negara.
Berkaca dari hal itulah, sekejap pola pikir jadi berubah. Ulama wajib berpolitik, memainkan peran ganda dalam komunitas ummat Islam, baik sebagai pemimpin spiritual maupun kiblat politik.
Keberpihakan ulama dalam friksi yang terjadi adalah hal yang tak bisa dihindari. Ada yang memihak penguasa, adapula yang bersebrangan. Disini ummat Islam harus cerdas agar tidak terjadi kebingungan. Bedakan antara statement politik dengan tausyiah seorang ulama ketika sedang berceramah di Masjid. Jika ulama menyampaikan hal yang benar tentang ajaran Islam, ummat tak punya hak untuk membantah. Namun saat seorang ulama memberi pelajaran tak sesuai dengan Qur'an dan Hadits, maka ingatkan dengan cara-cara yang elegan.
Beda kasus kalau ulama tadi memberikan statemen atau sinyalemen politik. Sebagai warga Negara ia miliki hak untuk melakukan pilihan politik. Ketika pilihan seorang ulama berbeda dengan pilihan kita, ya apa mau dikata. Silahkan saja ungkapkan rasa tak suka, namun FOKUS mengkritisi keberpihakan politiknya. Tak perlu membawa-bawa kehidupan pribadi apalagi karena perbedaan sikap politik lalu tak mau mendengar ceramahnya lagi. Jelas itu adalah hal yang tak bisa dibenarkan.
Saya pribadi suka mendengar ceramah ulama dari berbagai aliran, baik itu ulama FPI, NU, HTI, Muhammadiyah atau aliran lainnya. Karena saya percaya ada hal-hal baik dalam tausyiah mereka. Minimal mereka mengajak ummat untuk tertib melaksanakan sholat 5 waktu. (BZH)
06/11/2019

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *