Pakai nalar apapun partai partai yang bisa digolongkan dalam tagar 2019GantiPresiden ini memang harus berkoalisi untuk mendapatkan Presidential treshold 20 syarat minimal perolehan suara sebuah partai atau koalisinya untuk mencalonkan presiden

Pakai nalar apapun, partai-partai yang bisa digolongkan dalam tagar #2019GantiPresiden ini memang harus berkoalisi untuk mendapatkan Presidential treshold 20% — syarat minimal perolehan suara sebuah partai atau koalisinya untuk mencalonkan presiden. Makanya aneh dan sombong saja jika masing-masing mereka terus mencalonkan Presiden sendiri-sendiri — PAN [7,6%] dengan Zulkifli Hasan, PKS [6,8%] dengan Anis Mattanya, dan lebih dahsyat lagi PBB [1,5%] dengan Yusrilnya. (Camkan sodara-sodara, hanya punya modal 1,5% doi sangat bernyali untuk nyapres). Bahkan jika ketiganya bergabung pun perolehan suaranya cuma 15,9%.
Indikasi koalisi empat partai (Gerindra, PAN, PKS, PBB) sudah terbaca, dan ini membuat mereka memperoleh 27,7% suara, dengan Gerindra menjadi pemasok terbesar (11,8%). Tanpa Gerindra, koalisi ini hanya akan menjadi seperti perkumpulan para "duda-kere" doang. Yang tersisa pada mereka hanyalah gorengan sentimen agama. Dan toh itu pula yang tetap mereka jual. Sehingga Prabowo pun akhirnya difait-acompli, hanya akan didukung jika ia punya program menerapkan Syariah Islam. Jadi, begitulah logika elektoral koalisi ini. Islamist logical fallacy ...
Mengharapkan perluasan koalisi dengan PKB [9%] dan PPP [6,5%]? Ini juga pilihan yang tak mungkin karena kedua partai terakhir itu lebih condong untuk menjagokan Jokowi. Bahkan, Ketua Umum PKB sudah sangat kebelet menjadi calon Wapresnya, sampai-sampai dia harus nyekar di depan nisan Taufik Kiemas: untuk minta restu!
Agar jualan Islam tetap laku, maka sentimen konstituen politik non-partai ikut-ikutan digoreng. Alumni lapangan Monas 212 dan jamaah Hizbut Tahrir diam-diam terus diincar, dan kini tampak betul jadi rebutan antara PBB dan PKS.
Jadi sudahlah, demokrasi elektoral yang dikerjakan partai-partai elite predator sesengguhnya hanya merusak prinsip-prinsip politik kewargaan. Identitas dan kepentingan warganegara seolah-olah hanya ditentukan oleh agamanya. Maka politisasi agama menjadi keharusan. Dan para konsultan politik akan tetap terus bekerja atas dasar itu, dengan berbagai trik manipulatifnya.
03/07/2019
12 Komen:
Eka Eldia
03-07-2019, 03:28:55
Politik itu dinamis.Saat ini tidak ada satupun partai yang bisa mengajukan calon Presiden tanpa koalisi. Sebanyak-banyaknya koalisi tidak bisa menentukan seorang Presiden, karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat, bukan Partai.
AE Priyono
03-07-2019, 03:28:55
Ya memag itu dua proses yang berbeda; ketika pencalonan diperlukan keterlibatan partai, ketika pemilihan hanya suara rakyat pemilih yang menentukan. Makanya jangan dicampuraduk ...
Radix Guevara
04-07-2019, 03:28:49
Yg terjadi skrng tdk lbh dari oligarki partai krn adanya presidential threshold 2O persen, tp memakai hasil perolehan suara pemilu 2O14. Ibarat karcis masuk sdh disobek dipakai lagi ...
Attia Nur
04-07-2019, 03:28:49
Dan karena inilah harus ada proses evaluasi serta reformasi (lagi?) terhadap kondisi demokrasi di Indonesia. Tidak "nrimo" spt yg disarankan Romo Magniz.
Musarsyad
05-07-2019, 03:28:45
org2 yg menggigil gelisah, pengen berkuasa tp tdk punya modal kecuali jual ayat dan agama ?
Muhammad Haitami
05-07-2019, 03:28:45
Betul bang AE Priyono Sbg bagian dr ummat Islam, inilah saatnya men-dewasa-kan ummat.
Sri Yanuarti
06-07-2019, 03:28:47
Ijin share Mas.
Barman Tannenbaum
06-07-2019, 03:28:47
hak, haknya, berapa senti tuh...kalau ketinggian bisa srimpet...
Yulianti Pratiwi
07-07-2019, 03:28:46
HRS mau ikut rebutan kursi presiden juga? Jadi selama ini karena ada ambisi pribadi? Hadeuuuhhhh Indonesia makin aneh!
Ells Bu Ells Jacob
07-07-2019, 03:28:46
kelilipan mata melihat ini semua jadinya
Rinny Srihartini
08-07-2019, 03:28:42
Bukan sombong tp keliatan bodoh?
Muti Handaru
08-07-2019, 03:28:42
Konon agama adalah solusi....tapi dalam politik bisa jadi alat utk membunuh suara....agama kadang bikin repot??

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *