RANTAI DURI PENGHALANG Bukan sadar tinggal jasad yang pulang Entah mengapa saya sudah dua kali pakai kata rantai berduri di post saya

RANTAI DURI PENGHALANG
Bukan sadar, tinggal jasad yang pulang
Entah mengapa saya sudah dua kali pakai kata rantai berduri di post saya. Kali ini saya ingin menggunakannya untuk menggambarkan bagaimana hasil kerja Densus 88 yang digelontori anggaran 1.9 T itu kontra produktif dengan misi penciptaan kedamaian yang seharusnya diembannya.
Di tengah sibuknya organisasi2 masyarakat yang bergerak untuk mewujudkan kedamaian dan ketenangan hidup bernegara dan beragama; di tengah repotnya masyarakat memperbaiki jalinan antar mereka yang sempat rekah; di tengah keraguan masyarakat terhadap profesionalisme POLRI dalam mengungkap rentetan kriminal pada pemuka agama dan umatnya; lha kok Densus ini pulangkan terduga teroris dalam keadaan tak bernyawa?! kok mengulang kasus Siyono?!
Kasus ini tentu amat mencederai dan membuat legitimasi masyarakat terhadap penegakan hukum makin terpuruk. Anda merasakan apa yang saya rasakan?
Saya pernah sangat apresiasi dan kagum bagaimana Polri berhasil melakukan penyadaran terhadap para pelaku dan calon pelaku terorisme. Kemarin kawan wartawan yang pernah berhari-hari ngikuti proses itu menceritakan bagaimana Tito (saat itu masih Kombes) mampu berdebat panjang soal agama dengan terduga teroris yang diakhiri tangisan tobat si terduga. Dibantu para ahli agama dari perguruan tinggi, proses pertobatan berhasil. Bukti-bukti keberhasilan metode ini antara lain kelompok yang terdiri dari keluarga dan rekan terhukum mati teroris bisa disadarkan dan sekarang membentuk sebuah gerakan penyadaran yang berpusat di Jawa Timur. Kenapa tidak ini yang dilakukan sekarang? Kok malah pulang tinggal jasad? Ada apa?
***
Kepada para aktivis perdamaian dan kemanusiaan, jangan patah arang. Meskipun beban menciptakan kedamaian malah terganggu kasus kematian terduga teroris yang berbuntut apatisme masyarakat, perjuangan teman-teman harus terus dilakukan. Kekerasan dan kedzaliman harus 'dilawan' dengan kewarasan.
Teknik melawan kekerasan dengan cara yang keras sudah terbukti hanya akan makin memperkeras, bukan memperlembut. Hakekat azalinya, setiap manusia tidak mau direndahkan dan disalahkan. Maka bahasa-bahasa nyinyir nan menghina selamanya tidak akan efektif untuk menyadarkan.
Masyarakat yang pada dasarnya ingin hidup damai sesungguhnya memiliki landasan kultural yang amat sangat memadai untuk menjaga kedamaian itu. Setiap sub-kultur di Indonesia ini, dari Papua sampai Sumatera, memiliki ajaran kedamaian yang telah ada ribuan tahun. Akan tetapi kadang lupa karena mata tertutup kepentingan dangkal semata. Nah, kewajiban kita untuk mengingatkan yang lupa.
Untuk itu kita tidak bisa sporadis. Semua harus bekerjasama meski kita banyak beda: suku, budaya, agama. Berbeda dan bekerjasama? Bisa!
27/11/2019

Tinggalkan Balasan

Tên của bạn *
Email *
Cảm nhận *